Di Hindia Belanda, Kerajaan Belanda (karena adanya pergeseran ekonomi) di akhir abad ke-19 dan permulaan abad 20, ada sedikit perubahan dalam cara imperialisme. Belanda menghisap keuntungan-keuntungan di Hindia Belanda, akan tetapi pada intinya adalah sama saja, yakni mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Jika dahulu kekayaan diperas, digali dan dijual oleh kaum modal Belanda sendiri, maka diakhir abad 19, karena beberapa alasan Belanda juga memberikan kesempatan kepada modal asing untuk turut menggali kekayaan bumi dan memeras tenaga kerja rakyat Indonesia. Inilah yang dinamakan “Politik Pintu Terbuka”. Sehingga dengan cara ini berangsur-angsur kapitalisme international turut juga dalam pengangkutan keuntungan dari Hindia Belanda. Kaum modal Belanda menyelimuti taktik yang licin dan jahat ini dengan perkataan “etis politik”. Kaum ethis Belanda ini menganjurkan supaya kepada rakyat di Hindia Belanda diberikan sekolah-sekolah. Terutama yang berfaedah bagi pendidikan Hindia Belanda untuk menjadi pegawai-pegawai rendahan administrasi, perkebunan-perkebunan dan lain-lain. Dengan demikian mereka mendapatkan buruh administrasi dan buruh perusahaan yang jauh lebih murah upahnya dari pada buruh yang didatangkan dari negeri Belanda. Bahkan kepada gadis-gadis Indonesia juga dianjurkan agar mereka bersekolah. Tokoh-tokoh terkenal penganjur ethis politik adalah : Mr. J.H Abendanon dan Mr. Van de Venter.
Di Belanda, kaum liberalis (sebutan kaum ethis) menuntut untuk membalas jasa-jasa rakyat Hindia Belanda yang dinilai banyak memberi keuntungan bagi Belanda, pada saat pelaksanaan sistem tanam paksa (cultuutstelsel dan Hongi). Selain itu mereka juga melihat bahwa cara-cara penglaksanaan imperialisme kuno itu tidak efektif karena mengakibatkan kerusakan jiwa raga dan kemelaratan yang tidak terhingga, juga berakibat pula berkurangnya hasil yang dipetik nantinya oleh pemerintahan Belanda. Akhirnya golongan liberalis memperoleh kemenangan dalam persidangan di parlemen negeri belanda. Akibat kemenangan tersebut maka pemerintah kolonial Belanda harus melaksanakan politik etis (politik balas budi) yang diwujudkan melalui trilogi politik etis, yaitu dalam bidang :
1.Irigrasi (pengairan)
2.Migrasi (pemindahan penduduk)
3.Edukasi (Pendidikan).
Sebagai akibat pendidikan yang “dibuat”oleh Penjajah (politik etis), dan kekalahan Rusia oleh jepang (Jepang menghancurkan kapal selam Rusia di selat tsussyma), selain itu adanya Gerakan Turki Muda (1908), suatu gerakan Anti Kaum Kolot/Konservativ yang menimbulkan Revolusi turut mempengaruhi keadaan dalam negeri. Dikalangan mahasiswa STOVIA sendiri mulai menyadari bahwa adanya rasa senasib dan sepenanggungan yang hidup dalam suasana penjajahan yang sama-sama tertekan, diperlakukan oleh pihak penjajah sebagai orang yang bodoh. Karenanya timbul keinginan untuk membebaskan diri dari kehidupan masyarakat terjajah. Para pelajar yang belajar di STOVIA (Mahasiswa) mulai berdiskusi satu sama lainnya. Seorang yg bernama Soetomo aktiv mendatangi Kelas-kelas Di STOVIA, mereka berdiskusi satu sama lain hingga terbit suatu kebutuhan akan Organisasi, disinilah awal lahirnya Boedi Oetomo (20-Mei-1908), suatu Organisasi modern pertama di Indonesia yg bertujuan: mengembalikan kejayaan jawa Dwipa yang telah direbut oleh kolonial belanda. Budi Utomo sangat bersifat kedaerahan (mengunggulkan orang Jawa), dan sangat kooperatif sekali dengan pemerintahan Belanda serta masih belum memperjuangkan hak-hak politik. Budi Utomo bergerak dalam bidang sosial Budaya. Hal ini tidak mengherankan melihat pada saat itu yang menjadi anggota Budi Utomo adalah anak-anak Bangsawan, ningrat, pejabat Belanda dari pribumi yang jauh dari kaum pekerja. Namun dikemudian hari, berdirinya Budi Utomo mendorong orang-orang daerah yang juga belajar di STOVIA untuk mendirikan perkumpulan.
Di Belanda, kaum liberalis (sebutan kaum ethis) menuntut untuk membalas jasa-jasa rakyat Hindia Belanda yang dinilai banyak memberi keuntungan bagi Belanda, pada saat pelaksanaan sistem tanam paksa (cultuutstelsel dan Hongi). Selain itu mereka juga melihat bahwa cara-cara penglaksanaan imperialisme kuno itu tidak efektif karena mengakibatkan kerusakan jiwa raga dan kemelaratan yang tidak terhingga, juga berakibat pula berkurangnya hasil yang dipetik nantinya oleh pemerintahan Belanda. Akhirnya golongan liberalis memperoleh kemenangan dalam persidangan di parlemen negeri belanda. Akibat kemenangan tersebut maka pemerintah kolonial Belanda harus melaksanakan politik etis (politik balas budi) yang diwujudkan melalui trilogi politik etis, yaitu dalam bidang :
1.Irigrasi (pengairan)
2.Migrasi (pemindahan penduduk)
3.Edukasi (Pendidikan).
Sebagai akibat pendidikan yang “dibuat”oleh Penjajah (politik etis), dan kekalahan Rusia oleh jepang (Jepang menghancurkan kapal selam Rusia di selat tsussyma), selain itu adanya Gerakan Turki Muda (1908), suatu gerakan Anti Kaum Kolot/Konservativ yang menimbulkan Revolusi turut mempengaruhi keadaan dalam negeri. Dikalangan mahasiswa STOVIA sendiri mulai menyadari bahwa adanya rasa senasib dan sepenanggungan yang hidup dalam suasana penjajahan yang sama-sama tertekan, diperlakukan oleh pihak penjajah sebagai orang yang bodoh. Karenanya timbul keinginan untuk membebaskan diri dari kehidupan masyarakat terjajah. Para pelajar yang belajar di STOVIA (Mahasiswa) mulai berdiskusi satu sama lainnya. Seorang yg bernama Soetomo aktiv mendatangi Kelas-kelas Di STOVIA, mereka berdiskusi satu sama lain hingga terbit suatu kebutuhan akan Organisasi, disinilah awal lahirnya Boedi Oetomo (20-Mei-1908), suatu Organisasi modern pertama di Indonesia yg bertujuan: mengembalikan kejayaan jawa Dwipa yang telah direbut oleh kolonial belanda. Budi Utomo sangat bersifat kedaerahan (mengunggulkan orang Jawa), dan sangat kooperatif sekali dengan pemerintahan Belanda serta masih belum memperjuangkan hak-hak politik. Budi Utomo bergerak dalam bidang sosial Budaya. Hal ini tidak mengherankan melihat pada saat itu yang menjadi anggota Budi Utomo adalah anak-anak Bangsawan, ningrat, pejabat Belanda dari pribumi yang jauh dari kaum pekerja. Namun dikemudian hari, berdirinya Budi Utomo mendorong orang-orang daerah yang juga belajar di STOVIA untuk mendirikan perkumpulan.
0 komentar:
Posting Komentar